About

Blogger news

Blogger templates

Friday, January 18, 2013

Akankah Ibu Kota Indonesia tenggelam

Jakarta merupakan salah satu kota terluas sebagai ibu kota sebuah negara. Pesatnya pembangunan secara vertikal dan horizontal, menjadikan kota Jakarta sebagai pusat geliatnya ekonomi Indonesia. Secara geologi, Jakarta duduk di atas lapisan sedimen yang sangat muda dan terendapkan dalam waktu cepat dalam umur geologi. Kondisi geologi ini menjadikan Ibu kota negara kita ini sangat rawan terhadap bencana amblesan tanah (land subsidence). Fenomena alam ini ternyata sudah diketahui sejak tahun 1982 melalui pengukuran leveling, dan sejak tahun 1997 Bapak Hasanuddin dari Geodesi ITB bersama kawan-kawan mulai mengamati amblesan Jakarta dengan menggunakan teknologi GPS Geodetik.
Penyebab utama turunnya tanah di Jakarta adalah beban bangunan yang begitu besar karena pesatnya pembangunan dan pengambilan air bawah tanah (sumur bor) yang luar besar. Hal menyebabkan beban (load) atas batuan sedimen semakin besar sehingga menyebabkan konsolidasi lapisan tanah di bawahnya.
Konsolidasi ini diperparah lagi dengan pengambilan air bawah tanah (ground water) secara besar-besaran oleh semua perkantoran, pabrik, penginapan, perumahan, dll. Pada gambar di samping ini bisa dilihat kondisi bagaimana air tertekan yang ada dalam aquifer batuan sedimen bisa menyebabkan meningkatnya tekanan pori-pori air terhadap butiran tanah/pasir dan menguatkan tekanan antar butir namun ketika airnya habis dihisab oleh sumur bor maka butiran tanah/pasir tersebut akan  lepas terpadatkan oleh beban bangunan yang ada di atasnya dan terjadinya amblesan tanah yang tidak dapat dihindari.
Seperti yang jelaskan sebelumnya, amblesan tanah Jakarta mulai diketahui sejak 1982 menggunakan pengukuran leveling, kemudian berkembang dengan adanya GPS Geodetik. Gambar di bawah ini menunjukkan nilai amblesan di salah satu tempat di kawasan Cengkareng Barat sebesar -2,55 meter sejak tahun 1982 – 2010. Untuk mengetahui nilai amblesan pada tahun 2020, 2040, dan 2060, silahkan lanjutkan grafik tersebut secara linear. Namun laju amblesannya berbeda di masing-masing tempat.
Setelah melihat angka yang sangat tidak mengenakkan hati, adakah solusi untuk permasalahan ini? Solusi untuk permasalahan ini penulis rasa adalah dengan cara menghentikan penggunaaan air bawah tanah (sumur bor). Pemerintah DKI melalui Gubernur barunya nanti harus bisa membuat kebijakan 0% penggunaan air sumur bor dan 100% penggunaan air PDAM. Konsekuensi dari kebijakan ini adalah pelayanan PDAM yang maksimal dan bisa memenuhi kebutuhan air kota yang makin berkembang. Selain itu, pembuatan sumur serapan dan hutan kota juga harus dilakukan. Kebijakan ini harus segera direalisasikan untuk menghentikan laju amblesan tanah di Jakarta.

Sumber : http://www.ibnurusydy.com/kota-kota-yang-sedang-tenggelam-i/

0 comments:

Post a Comment